Apr 28, 2012

Ssssttttt, jika Adzan jangan keras-keras


Saya menulis disini tidak ingin memaksa anda ber-sependapat dengan saya. Tapi saya hanya ingin memberi padangan baru mengenai isu "suara adzan". Seperti biasanya, media sedikit mendramatisi, apa yang dikeluarkan pemerintah. Padahal menurut saya isi dari pidato Wapres saat Muktamar Dewan Masjid Indonesia Jumat (27/4) lalu, gak sampe "segitunya" seperti yang saya lihat di stasiun TV nasional. Yang efeknya, membuat orang resah, saling benci seolah Indonesia tidak ada toleransi keber-agamaan, tanpa membaca lengkap pidato Wapres Budiono. (ciri khas anak alay, selalu ikut-ikutan tanpa tau yang apa diikuti). Yang bersedia membaca pidato Waprees Budiono ada di detik.com


Saya tidak membahas pidato Wapres Budiono, tapi membahas efek yang ditimbulkan. Membaca komentar-kometar di detik.com, kompas.com, perasaan saya sangat miris. Seperti di Indonesia ini tidak ada toleransi beragama, seolah mayoritas menganiaya minoritas hanya gara-gara suara adzan. Apa benar seperti itu?. Sungguh saya tidak miris soal adzan, tapi saya miris membaca komentar yang tidak memahami arti toleransi. Toleransi hanya diartikan, tidak mengganggu dirinya, tidak merusak keyamanan, dan hal lain yang ujung-ujungnya harus sesuai dengan nafsunya. Intinya, jika kegiatan anda menggangu kenyamanan saya, berati anda tidak toleransi.

Kawan, jangan menganggap Indonesia ini hanya jawa, ada sumatera, kalimatan, sulawesi, papua dan pulau-pulau lainnya. Jangan juga mengganggap apa yang terjadi di Jawa, terjadi pula di Sumatera,Bali, Sulawesi, Papua dan dimanapun. Bagi anda yang hidup di Jawa, anda akan terbiasa dengan suara Adzan 5 kali sehari, tapi jika anda di Bali anda tidak akan pernah mendengar suara Adzan. Anda yang tinggal di Jawa, pasti sering mendengar pengeras suara saat ada warga yang menggelar "Tahlilan", dan jika anda sempat berkunjung ke Manado, anda bisa menjumpai kegiatan umat kristiani layaknya "Tahlilan" yang menggunakan pengeras suara juga. Semuanya "well well" saja, itulah toleransi dan itulah Indonesia.

Saya tidak bisa membayangkan, jika Toleransi di Indonesia dibuat standar dan ada UU yang mengatur. Toleransi itu dari berasal kebijaksanaan manusia, dan bijaksana adalah yang menunjukan kita semua adalah manusia. Coba bayangkan jika benar-benar semua kegiatan agama tidak boleh mengganggu orang yang beragama lain. Adzan tidak boleh pake pengeras suara, jika ada orang beragama Kristen, Hindu, Budha dan lainnya di setitar Masjid. Bayangkan berapa ratus ribu Gereja di Indonesia yang bangunan sebelahnya adalah rumah seorang muslim,Hindu,Budha? bisa-bisa, umat Kristiani ibadah,kumpul di Gereja lalu saling berbisik satu sama lain karena tetangga sebelah merasa ternggangu. Dan di Bali, hari raya Nyepi bisa menjadi tidak sakral lagi, karena banyak umat Kriten,Islam,Budha juga sebagai penduduk pulau Bali. Apa ini yang disebut toleransi dan kawan semua mau hidup dengan cara sepeti itu?

Ada suara Adzan, Ibadah Gereja, sakralnya Nyepi, itu semua bisa terjadi karena kebijaksaan anda sebagai manusia. Indah bukan hidup di Indonesia!!

Saya bersyukur hidup di Indonesia ( saya tidak bohong/pura-pura ), rasa persaudaraan dan kekeluargaan tinggi, serta masyarakat yang penuh toleransi. Kita tidak usah mencoba meniru Amerika, Australia, Eropa masalah toleransi. Harusnya merekalah yang belajar ke Indonesia. Di Indonesia ini enak, kita bebas memeluk agama apapun. Di negara maju, anda bisa kehilangan pekerjaan, dipukul orang, kitab anda dibakar, dilecehkan karena  anda beragama minoritas. Di Indonesia kita tidak perlu menyembunyikan agama , bahkan yang beragama Islam, bisa tanpa malu dan takut untuk ngaku gak pernah Sholat. gimana enak kan hidup di Indonesia.

Sudah mengerti arti Toleransi?

Jujur kawan, saya kadang agak marah, ingin sekali ketemu langsung dan mengkuliahi orang-orang yang saling berkomentar soal agama yang mereka sendiri tidak tahu apa yang sedang dibicarakan. Fanantik beragama itu perlu, tapi hanya untuk diri sendiri. Kita sering marah jika ada yang bilang agama kita salah, dan balik menyalahkan agama orang tersebut. Marah jika disebut kafir, marah jika ada yang bilang besok kita masuk neraka, marah jika kita dikatain sesat, apa perlu kita marah? padahal yang menentukan kafir,surga,neraka,sesat adalah Tuhan? jika nanti agama saya salah dan agamamu benar, saya bisa apa? atau jika agama ini hanya ilusi, kita bisa apa? Neraka surga tidak ada, apa anda berhenti sholat?

Mari kita pahami arti Toleransi, bukan karena minoritas anda selalu jadi korban. Bukan karena anda mayoritas, anda bisa berbuat seenaknya. Saya sangat cinta Indonesia,  tentu anda juga. Indonesia bisa menjadi negara sebesar ini karena kebijaksaan anda-anda sekalian, yang bisa bertoleransi antar saudaranya.

1 comment:

Ahmad Agray said...

allahuakbar..............