Mar 8, 2011

Minimarket, saya juga mau bikin.

Sejak masih kecil, yang saya ketahui pekerjaan orang tua saya adalah seorang pedagang. Pedangang apapun, mulai dari sembako, sayuran, ikan basa, warung nasi dan apapun yang bisa dijual maka mereka akan menjualnya. Alhamdulillah, jerih payah mereka mampu membuat saya dan adik-adik merasakan bangku kuliah. Sebelum mengutarakan maksud dari judul yang saya tulis, izinkanlah (halaah!!kayak bang haji) saya sedikit bercerita

Pada awal tahun 80an, saat saya masih balita dan tidak ngerti apa-apa. Mereka memutuskan untuk membuat sebuah warung kelontong, warung yang melayani kebutuhan sembako tetangga. Keputusan yang sebenarnya adalah jalan terahir mencari uang, karena pada saat itu sulit sekali bapak saya mencari pekerjaan. Maklum, mereka berdua lulus SD saja gak sanggup. Dimodali dari hasil jual sepeda angin, mereka tanpa lelah berjualan dan bertambah maju. Dari warung menjadi toko, bahkan menjadi salah satu terbesar di kampung saay saat itu.


Pada tahun 1990an adalah masa ke-emasan, harga-harga murah dan pembeli yang tak kunjung henti adalah ciri toko kami. Hingga badai krisis moneter 1996 datang, saya yang belum tahu apa-apa sama sekali tidak merasakan. Tapi orang tua saya pasti pusing tuju keliling. Yang bisa saya ingat, harga-harga saat itu sangat kacau. Hingga hingga membuat toko kami benar-benar hampir mati. Manufer ajaib pun dilakukan orang tua kami, agar tetap bisa menyekolahkan anak-anaknya. Mulai jualan es, jual rujak manis, nasi, sayur ikan basah dll.

Ditengah kepayahan, Alhamdulillah saya lulus kuliah dan segera mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan yang sebenarnya cukup baik dan menjadi impian sebagian orang. Meskipun sedikit, saya bisa membantu adik-adik saya tetap bersekolah. Setelah beberapa tahun bekerja, saya mendapatkan jodoh, menikah dan hamil. Hingga suami saya menyarankan saya untuk berhenti bekerja. Saya berhenti bekerja dan jadi ibu rumah tangga.

Saya ingat betul, betapa bapak saya merasa kecewa dengan keputusan saya. Keputusan untuk menjadi pedagang, meneruskan usaha mereka yang bagi orang tua kami hal itu adalah buang-buang energi. Karena bagi bapak saya, pekerja kantoran lebih terhormat daripada pedagang. Dan mereka juga sudah sangat kepayahan mencari uang agar saya dan adik-adik bisa kuliah. Kalau hanya jadi pedagang, buat apa sekolah tinggi-tinggi. Tapi, namanya semangat dan mungkin sudah mendarah daging, rasanya selalu ada naluri untuk menjadi pedagang.

Dengan modal yang pas-pasan, saya putuskan membuka toko. Toko orang tua kami, saya isi dengan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Ada beras,gula,tepung,minyak,sabun semuannya ada. Hingga apapun yang ditanyakan pembeli, kami akan segera mencari untuk melengkapi dagangan. Dibantu orang tua dan adik-adik yang seolah juga punya naluri pedagang, alhamdulillah dalam beberapa tahun usaha kami cepat maju. Saya dan adik-adik sekarang mampu merasakan bagaimana manis dan lelahnya jika pengunjung yang datang tanpa henti.

Ditengah usaha kami, alfa dan indomart datang. Toko swalayan, minimarket yang menjual barang-barang serupa dengan kami. Otomatis, sebagian pelanggan kami juga membeli barang-barang dari minimarket tersebut. Apa kami mengeluh? tidak, kami siap menghadapi mereka. Siap menerima tantangan mereka, siap mengambil kembali para pelanggan kami.

Dengan dana talangan dari bank (hutang choy), kami membuat usaha tandingan. Mendirikan toko dengan sedikit konsep swalayan dgn suasana bersih dan nyaman. Sebisa mungkin kami tidak menjual barang-barang yang sama dengan para tetangga yang punya usaha toko kelontong. Atau jikapun ada, harganya kami buat lebih mahal ataupun sama dengan mereka, dan mengurangi jumlahnya. Misal, kami hanya membatasi 2Kg gula perhari. Jika sudah laku 2Kg, maka sudah habis dan bagi yg ingin membeli silakan beli di tetangga. Kami juga tidak menjual rokok, karena sadar kompetitor kami bukan mereka (warung) melainkan alfamart dan indomart.

Ditengah kesiapan kami, menghadapi gelombang besar minimarket alfa dan indomart. Muncul wacana penertiban minimarket tak berizin. sedikit banyak kami khawatir, karena kami membangun toko tersebut sebagai toko biasa dan bukan minimarket. Kami cuma khawatir jika usaha kami ditutup paksa, dan menghentikan usaha kami.

Sekarang kami hanya berharap pada kebijaksaaan pemerintah, jika pemerintah mengaruskan kami membuat izin maka kami akan mengurus izinnya. Mau ambil pajak, kami akan membayar pajaknya. Asal jangan nanti main tutup, tanpa memperdulikan nasib karyawan yang mayoritas adalah para tetangga kami sendiri.

Atau, jika saya boleh ber-andai andai.

Mungkinkah wacana ini sebenarnya dikeluarkan oleh pihak-pihak yang lebih besar dan mapan modalnya? agar mengurangi kompetitor seperti kami? Ketika para pemodal besar sudah siap dan mapan, maka mereka membuat isu sendiri agar izin pembuatan minimarket menjadi lebih sulit? dan akhirnya merekalah yang menang? Sungguh aneh jika nantinya saya tidak bisa membuat usaha sejenis minimarket, dimana orang lain datang bikin minimarket sedangkan saya dikampung sendiri harus tetap pada toko kelontong tanpa bisa berkembang?

Saya sangat setuju dengan pembatasan minimarket, tapi jika kami tidak ikut bikin minimarket apa jadinya toko tradisonal seperti kami?. Ketika usaha toko kelontong dianggap ketinggalan zaman dan kehilangan pelanggan, maka minimarket pemodal asing, yang pemiliknya pun kami tidak kenal berjaya di kampung kami.

Kami tidak akan biarkan itu terjadi, Minimarket saya juga mau.

No comments: